Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Kabar Meninggalnya Ano Sutrisno Kagetkan Warga, Jenazah Diberangkatkan ke Cirebon

Cirebon - Kabar duka tutup usianya Walikota Cirebon, Ano Sutrisno mengagetkan warga Kota Cirebon. Terutama yang berada di sekitar rumah pribadi walikota di Kompleks Griya Sunyaragi Permai (GSP) Kota Cirebon.

Bahkan, kabar meninggalnya Ano Sutrisno sudah terdengar di masjid-masjid di seluruh penjuru Cirebon. “Di Masjid GSP sudah terdengar kabar meninggalnya bapak Ano, saya sampai lari-lari untuk mastiin kabar tersebut,” ujar Herman (66) salah satu petugas satpam di Komplek GSP.

Bahkan, banyak pengendara roda dua dan roda empat yang mendadak berhenti ketika mendengar kabar duka tersebut. Dan bertanya-tanya kepada warga sekitar perihal kabar tersebut. Hal tersebut dianggap wajar karena beberapa minggu sebelumnya beredar kabar palsu perihal meninggalnya Ano.

Kabarnya, Ano Sutrisno sedang dalam perjalanan menuju ke Cirebon dari Rumah Sakit Siloam Tanggerang. “Kabarnya seperti itu,” ujar Tari (50) salah satu satpam GSP yang mendengar kabar tersebut dari Satpol PP Kota Cirebon.



Penulis : Kir Raharjo
Sumber : cirebontrust

Diduga Kelebihan Penumpang Perahu Penyeberangan Terbalik

Indramayu - Perahu penyebrangan terbalik di Sungai Cimanuk masuk wilayah Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jumat (13/2/2015) pagi diduga kelebihan muatan. Perahu hilang keseimbangan sehingga terbalik dan menghanyutkan belasan orang dan sepeda motor. 
Kapolres Indramayu, AKBP Wijonarko mengatakan, peristiwa terjadi sekitar pukul 08.00. Ketika itu perahu berisi sekitar 17 orang warga dan 12 unit sepeda motor. "Hendak menyebrang dari Blok Pulo Cangak, Desa/Kecamatan Bangodua menuju Kertasemaya. Tapi dalam perjalanan perahu hilang keseimbangan sehingga terbalik," katanya melalui sambungan telepon.

Kapolres menduga, perahu kelebihan muatan. Namun, kata dia, ini masih diselidiki.

Jumlah korban hanyut, kata kapolres belum diketahui pasti karena tidak ada data pasti. Hanya, kata dia, beberapa warga yang jadi korban berhasil menyelamatkan diri.

"Korban hanyut masih dalam pencarian tim gabungan Pol Air Polda Jabar, instansi terkait, dan warga," kata kapolres. (roh/trbn)

Tiga Nelayan Cirebon Hilang Diterjang Ombak

Cirebon - Tiga nelayan asal Desa Muara, Blok Muara Wetan, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, hilang tenggelam di tengah aktivitas mereka mencari ikan di tengah laut.

Mereka dilaporkan hilang pada Sabtu (7/2/2015). Ketiganya yakni Tasmadi (35), Dedi (35), dan Su'o (40). Menurut pihak keluarga, mereka berangkat bersama mencari ikan sejak Kamis (5/2/2015) malam sekitar pukul 21.00 WIB di perairan Cirebon yang masuk wilayah Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Biasanya, hanya dalam sehari mereka di laut sebelum kemudian kembali ke rumah. Hingga sore, Senin (9/2/2015), ketiganya belum ditemukan.

Tim penolong sempat kesulitan menelusuri titik awal pencarian, mengingat informasi yang mereka terima dari pihak keluarga masih berupa perkiraan.Pihak keluarga tak mengetahui pasti titik awal lokasi pencarian ikan saat ketiga nelayan tersebut berangkat.

Dirpolair Polda Jabar Anang Syarif Hidayat saat dikonfirmasi mengatakan, rata-rata saat mencari ikan nelayan melakukannya secara sendiri-sendiri. “Nelayan jarang nyari ikan bareng-bareng. Mereka biasanya sendiri-sendiri agar ikan tangkapannya banyak,” jelas dia.

Laporan pertama ditindaklanjuti dengan mengerahkan dua unit kapal boat untuk mencari ketiganya. Namun, upaya pencarian hingga Minggu (8/2/2015) nihil.

Barulah pada Senin (9/2/2015) petang, tim pencari yang merupakan gabungan dari Polair, Basarnas, BPBD, dan warga menemukan kapal nelayan yang dipakai para korban hilang.

Kapal kayu tersebut ditemukan sudah dalam bentuk kepingan, diduga hancur akibat hantaman ombak di perairan sekitar Pelabuhan Cirebon. Pihaknya memperkirakan, ketiga nelayan itu kini terbawa arus laut ke arah timur Kabupaten Cirebon.

“Saat ini arus laut mengarah ke timur, karenanya mereka diduga terbawa hingga daerah Gebang-Losari atau sekitar 30 mil dari lokasi awal yakni di Gunungjati,” kata dia.

Untuk meningkatkan pencarian, pihaknya mengerahkan dua kapal boat ditambah dua perahu karet. Namun, mengingat telah hilang di laut selama sekitar 96 jam atau empat hari terakhir ketiganya diduga telah tewas.

Kejari Cirebon Masih Dalami Hasil Pemeriksaan Maksum Sehari Lalu

Cirebon - Mantan Rektor IAIN Syekh Nurjati, Maksum Muhtar, akhirnya diperiksa sebagai tersangka, dalam kasus dugaan korupsi pengadaan tanah untuk kampus II IAIN Syekh Nurjati.

Maksum diperiksa selama seharian, dari Senin (9/2/2015) pagi sampai sore. Pemeriksaan dilakukan di rumah tahanan negara kelas I Cirebon, tempat Maksum ditahan.

Maksum Muhtar dicecar dengan 30 pertanyaan oleh tim penyidik Kejaksaan Negeri Cirebon. Selama diperiksa, Maksum didampingi kuasa hukumnya, Gunadi Rasta.

Kepala Seksi Pidana Khusus Nusirwan Syahrul mengatakan, 30 pertanyaan tersebut difokuskan pada persoalan prosedur yang tidak diikuti oleh pihak kampus dalam pengadaan tanah.

"Sampai hari ini kami masih melakukan evaluasi dan analisa hasil pemeriksaan terhadap Maksum, untuk dicocokan dengan hasil pemeriksaan saksi-saksi," katanya, Selasa (10/2/2015).

Pertanyaan yang diajukan, katanya, merupakan pertanyaan seputar prosedur pelaksanaan pengadaan tanah yang seharusnya sesuai UU No 2 Tahun 2012 dan Perpres No 71 Tahun 2012 serta Peraturan Kepala BPN No 5 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum.

"Keterangan Pak Maksum nanti akan kami cocokan, antara prosedur dengan pelaksanaannya seperti apa," paparnya.

Nusirwan menambahkan, penyidik mencari pertanggungjawaban secara pidana, bukan secara administrasi. Untuk itu, pihaknya tidak akan melihat persoalan kedudukan dari SK internal yang dibuat oleh pihak kampus.

Dalam SK internal tersebut, terdapat 10 anggota, di antaranya Maksum sebagai pengarah.

Sedangkan sembilan orang lainnya bertindak sebagai penanggung jawab, ketua, sekretaris, serta anggota.

Menurutnya, SK internal sebenarnya tidak diatur dalam peraturan soal pengadaan tanah. SK dibuat oleh pihak kampus hanya untuk mempermudah proses pelaksaan pengadaan tanah saja.

Namun, berdasarkan informasi, SK itu dibuat secara mendadak oleh pihak kampus saat kasusnya, mulai diselidiki oleh Kejaksaan.

Beberapa anggota tim pengadaan tanah yang diberikan SK tersebut bahkan tidak mengetahui jika namanya dicatut di dalam panitia internal.

Sementara itu, kuasa hukum Maksum Muhtar, Gunadi Rasta, mengungkapkan, kalau dilihat dari SK internal, kliennya seharusnya tidak bersalah.

"Pak Maksum itu kan bertindak sebagai pengarah, sementara di bawahnya Pak Maksum ada yang bertindak sebagai penanggung jawab, ketua, sekretaris, serta anggota, totalnya 10 orang. Secara hierarki dari SK tersebut seharusnya kan yang paling bertanggung jawab adalah pihak-pihak yang berada di bawah Pak Maksum, sebab sebagai pengarah Pak Maksum itu hanya menerima laporan saja dari pihak-pihak yang ada di bawahnya," ujar Gunadi.

Melihat dari fakta tersebut, tambah Gunadi, seharusnya penetapan tersangka dimulai dari hulu baru ke hilir. (Ani Nunung/PRLM)

Wabup Cirebon Dilarang Tinggalkan Tanah Air

Cirebon - Kejaksaan Agung membatasi ruang gerak Wakil Bupati Cirebon, Jawa Barat, Tasya Soemadi. Tersangka dugaan korupsi dana bantuan sosial dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Cirebon, Jawa Barat, tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012 itu dicegah bepergian ke luar negeri.
 
Pencegahan ini dilakukan untuk mengantisipasi supaya tersangka tidak melarikan diri.

"Pencegahan  (tersangka)  ke luar negeri untuk menghindari tersangka melarikan diri," ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Tony Tribagus Spontana, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/2).

Kejaksaan Agung tak hanya mencegah Tasya. Dua tersangka lain dalam kasus ini, DPC Koordinator Penyerahan Bansos Subekti Sunoto dan Emon Purnomo, juga dilarang meninggalkan tanah air. "Surat pencegahan diajukan pada 4 Februari 2015," ungkap Tony.

Kejagung menetapkan ketiganya sebagai tersangka. Belum ada tambahan tersangka dalam kasus ini, meski sudah puluhan saksi diperiksa. Bahkan, kemarin (9/2), sedikitnya 22 saksi dari kelompok tani penerima dana hibah dan bansos diperiksa anak buah Jaksa Agung HM Prasetyo itu. 

Sejumlah pejabat, mantan pejabat, maupun Anggota DPRD Kabupaten Cirebon, juga sudah diperiksa Kejagung. (boy/jpnn)

Mayat Mengapung Ternyata Penderita Epilepsi

Indramayu - Sontak masyarakat digegerkan oleh penemuan sosok mayat pria mengapung di muara sungai prawiro kepolo blok pesisir Desa Balongan Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu,Selasa pagi(10/2) dalam kondisi mengenaskan, diduga mayat adalah penderita epilepsi atau ayan.

Informasi yang dihimpun “ER.Net” menyebutkan, penemuan mayat mengambang itu adalah Sarwono Bin Tariman warga Desa Balongan Blok Pesisir RT 10/03 Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu, ditemukan sekira pukul 08.00 WIB oleh Sunadi Bin Karya (41) dan Dulyani Bin Karya(34) warga Desa Rawadalem Blok Talep Rt:01/01 Kecamatan Balongan. Kakak beradik yang biasa mencari ikan di muara sungai Prawiro Darung blok pesisir Balongan tersentak ketika akan menabur jala(alat Penangkap ikan red) tiba-tiba tangan Dulyani terhenti ketika didepan mata mengambang sosok mayat dalam kondisi tengkureb dan masih dalam ikatan jala ditangan kanan. Setelah keduanya memastikan adanya sosok mayat meninggal, seketika memanggil orang disekitar tambak udang, ditemuilah Karyani Bin Wirya warga setempat yang membenarkan jika mayat mengapung itu adalah Sarwono adalah warga desa Balongan. Seketika saksi menghubungi pihak keluarga menemui anak korban Andi Rosandi (21) dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Kepolisian Sektor Balongan.

“Ketika mayat tersebut dipastikan dikenali oleh warga sekitar, saya melarang untuk langsung dievakuasi, sebelum mendapat kesaksian dari pihak kepolisian, baru setelah polisi datang kami bersama warga melakukan evakuasi,”Ungkap Dulyani di TKP kemarin.

Bungkarata, (48) keluarga korban membenarkan jika mayat yang mengapung dimuara sungai prawiro darung itu adalah Sarwono yang merupakan salah satu saudara dan teman sekampung. Ia juga mengakui bahwa korban menderita penyakit epilepsi salah satu penyakit yang datang tidak mengenal waktu. Menurutnya biasanya almarhum mencari ikan ditemani oleh keponakannya namun saat itu mungkin tuhan berkehendak lain.

“Sebelumnya juga dia menabrak beca saat mengendarai sepeda motor, jadi memang sudah lama Sarwono menderita penyakit itu,”tuturnya di rumah duka. 

Sementara itu, Kapolres Indramayu AKBP Wijanarko melalui Kapolsek Balongan AKP. I Komang Sarjana membenarkan kejadian penemuan mayat tersebut, setelah mendapat laporan dari warga pihaknya langsung mendatangi tempat kejadian, olah TKP, mencari saksi-saksi mengamankan barang bukti dan membawa jenazah ke Puskesmas Balongan atas persetujuan pihak keluarga korban.

“Setelah memperoleh keterangan para saksi, pihak keluarga korban menerima kematian korban Sdr.Sarwono Bin Tariman dengan ikhlash sebagai takdir dan tidak mau dilakukan autopsi terhadap mayat tersebut,”Ungkapnya didampingi Kanit Reskrim Aiptu Danda.

Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan dikebumikan di TPU Desa Balongan Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu pada hari itu juga.(Ihsan/ER.Net)

 
Copyright © 2014 Koran Pantura Online | Media Online Pantura. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger