Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Polres Indramayu Siapkan "Indramayu lautan Trail"

Indramayu - Kepolisian Resor (Polres) Indramayu bekerja sama dengan komunitas trail Indramayu dan didukung Pemerintah Kabupaten Indramayu akan menyelenggarakan Indramayu Lautan Trail (ILT) yang akan diselenggarakan pada 26 Oktober 2014 mendatang.

Rencananya, acara tersebut akan dihadiri oleh Kapolda Jawa Barat dan Pangdam III/Siliwangi. Hingga saat ini, berbagai persiapan terus dimatangkan oleh panitia penyelenggara. Seperti dipaparkan Ketua Panitia ILT 2014, Kompol Ajang Anwar Mustofa.

"Semua persiapan terus kita matangkan demi suksesnya kegiatan. ILT ini juga digelar sebagai rangkaian kegiatan menyemarakkan Hari Jadi ke-487Kabupaten Indramayu," paparnya.

Ia menyebutkan, event yang mengangkat tema "Bersatu dengan Alam Membangkitkan Hidup Sehat, Soliditas dan Sportivitas", tidak hanya diikuti pecinta trail adventure dari dalam Kota Mangga saja. Peserta yang telah melakukan registrasi juga tercatat berasal dari berbagai daerah lain di pulau Jawa. 

Menurutnya, hanya dengan melakukan registrasi dan memberikan kontribusi Rp175 ribu, pecinta trail adventure akan dimanjakan dengan jalur gaspol dan jalur ekstrem di sepanjang pesisir Indramayu. Kegiatan yang dipusatkan di GOR Singalodra itu, mengambil rute ke arah Pecuk menuju Pantai Tiris melintasi Karanganyar dan Totoran. 

Suasana Pantai Karangsong, Pantai Tambak, Pantai Langgen, dan Pantai Balongan Indah pun akan menjadi route yang dilintasi para pecinta trail adventure. "Setelah melintasi Malangsemirang, peserta akan memasuki sirkuit Bojongsari sebelum kembali ke GOR Singalodra sebagai titik finish. Jalur yang ditempuh seluruhnya kurang lebih 70 Kilometer," sebut Kompol Anwar.

Indramayu Lautan Trail juga akan diwarnai dengan penampilan seni tradisional khas Indramayu. Sederet artis kenamaan Kota Mangga dipastikan akan mengisi acara hiburan usai peserta menahlukkan jalur bersama motor kesayangannya. Trail adventure kali ini juga menjadi ajang untuk mempromosikan Kabupaten Indramayu sebagai kawasan budaya, wisata dan perdagangan.

"Masih ada kesempatan bagi yang belum mendaftarkan diri. Mari bergabung bersama kami menaklukkan jalur dan menikmati keindahan alam serta raih hadiahnya," tuturnya.(MA)

Sumber

Anak Usaha RNI Kembangkan Plasma Sapi di Indramayu

Indramayu - Anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Perusahaan Gula (PG) Jatitujuh mengembangkan plasma sapi di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

"Peserta plasma yang berminat dapat menghubungi pihak yang telah ditunjuk," kata Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro dalam bakti sosial dalam rangka ulang tahun RNI ke-50 di Desa Sukamulya Kecamatan Tukmadu, Indramayu, Minggu (19/10).

Tiap peserta nantinya akan mendapatkan enam ekor sapi yang dapat dipelihara dan dikembangkan.

"Nantinya hasil penjualan sapi yang sudah jadi dapat dikembangkan untuk ternak lele dan ayam," ujarnya. 

Menurut dia, pihaknya membuka kesempatan kepada 25 peserta untuk menjadi peserta baru plasma sapi itu.

"Kami beri kesempatan kepada para pemuda yang masih bisa mengangkat sapi untuk menjadi peserta plasma," katanya.

Sebelumnya, PG Jatitujuh sudah mengembangkan plasma sapi yang diikuti ratusan peserta di sekitar pabrik, termasuk di Kabupaten Majalengka dan Indramayu.

Peringatan ulang tahun RNI ke-50 tidak hanya berlangsung di PG Jatitujuh, juga berlangsung di RNI seluruh Indonesia seperti di Subang, Sumatera Selatan dan pabrik farmasi milik RNI, PT Phapros di Semarang Jawa Tengah. (Antara)

Indramayu perlu Miliki Museum Sejarah

Indramayu - Kota Indramayu sudah saatnya memiliki museum, untuk menyimpan berbagai macam benda bersejarah maupun tulisan dan berbagai catatan sejarah lainnya. Bahkan gedung yang akan dijadikan museum juga sudah ada, yaitu bangunan eks Biro Maritim pemerintah Hindia Belanda yang sekarang masih digunakan sebagai Kantor Badan Pengawas PD BPR Karya Remaja Indramayu, di Jalan Siliwangi Indramayu.

Menurut Nang Sadewo, selaku perintis pendirian museum yang juga Ketua Kompepar Indramayu Kota, ide pendirian museum sebenarnya sudah direspons positif oleh banyak pihak termasuk pimpinan daerah Indramayu. 

Diharapkan dalam waktu dekat bisa segera ditindaklanjuti, dimulai dengan rehab ringan bangunan tua yang akan dijadikan museum tersebut. Jadi, nantinya bangunan tersebut tetap milik pemkab, namun pengelola museum adalah pihak yayasan.

“Harapan kami pemkab segera mencari tempat baru untuk kantor Badan Pengawas PD BPR yang lebih representatif. Selanjutnya gedung tersebut tinggal dipoles atau dipercantik sebelum diisi dengan benda-benda bersejarah,” ujar Nang Sadewo dari Yayasan Indramayu Historia.

Dikatakan Dewo, tim dari Yayasan Indramayu Historia, diantaranya beranggotakan Tarka (pemerhati naskah kuno dari Cikedung), Pangki Suidno (pemerhati budaya dari Tugu Kecamatan Sliyeg), Dartin Yuda (perupa), Nurochman Sudibyo (sastrawan), Adung Abdulgani (Ketua Dewan Kesenian Indramayu), serta para pemilik bangunan bersejarah siap mendukung dan bersama-sama mewujudkan berdirinya museum tersebut.

“Ide pendirian museum ini sudah didukung banyak pihak, sebagai upaya pelestarian benda-benda cagar budaya Indramayu agar tidak musnah ditelan zaman,” ujar Pemuda Pelopor Tahun 2005 dan 2009 itu.

Selain ingin mewujudkan museum, sebagai Ketua Kompepar Indramayu Kota, Dewo juga punya obsesi untuk membuka pengembangan area wisata lokal Indramayu-Sindang. Menurutnya, banyak potensi yang bisa dijadikan obyek wisata. Mulai dari wisata ziarah Sindang-Indramayu, hingga wisata heritage jejak pecinan, klenteng, Bandar Cimanuk, dan masih banyak lagi bangunan maupun tempat-tempat bersejarah lainnya. (oet)

Sumber

Jelang Lebaran, Harga Hewan Kurban Alami Kenaikan

Indramayu - Harga jual hewan kurban seperti kambing dan sapi mengalami kenaikan menjelang idul adha. Kenaikan tersebut berada di antara Rp 200 ribu-1 juta per ekor, tergantung ukuran hewan kurban.

Rawin, pedagang hewan kurban kambing di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Indramayu, mengatakan, harga kambing kurban saat ini berkisar antara Rp 1,5 juta sampai Rp 5 juta. Menurutnya, besaran harga tersebut berbeda-beda. Tergantung ukuran kambing.

"Dibandingkan tahun lalu, harga kambing kurban saat ini naik di kisaran Rp 200 ribu,'' tuturnya, Selasa (30/9/2014).

Menurut dia, kenaikan harga itu sudah berasal dari peternaknya. Dia mengaku mengambil hewan qurban tersebut dari peternak di Garut. Menyinggung soal penjualan hewan qurban, Rawin mengaku ada kecenderungan penurunan.

Dia menyebutkan, pada H-5 lebaran Idul Adha tahun lalu, dia berhasil menjual sepuluh ekor kambing. Sementara pada saat ini, kambing yang terjual baru tujuh ekor. ''Kalau Idul Adha tahun kemarin, hingga hari H, saya berhasil menjual 25 ekor kambing,'' ujar Rawin.

Kenaikan harga juga terjadi pada hewan kurban sapi. Seorang pedagang hewan qurban sapi di kawasan Waduk Bojongsari Indramayu, Munif menyebutkan, harga sapi kurban yang dijualnya berkisar antara Rp 15,5 juta-35 juta per ekor.

Menurutnya, harga hewan kurban sapi itu naik di kisaran Rp 1 juta dibandingkan Idul Adha pada tahun kemarin. "Tapi, kenaikan ini tidak signifikan,'' katanya.

Munif mengatakan, penjualan sapi kurban pada tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Dia mengaku, sapi kurban yang terjual tahun lalu mencapai 20 ekor. ''Lebaran Idul Adha masih lima hari lagi. Saya optimis bisa menyamai penjualan seperti tahun lalu,'' terang Munif.

Munif menambahkan, selain khusus menjual sapi kurban, dia juga berusaha dalam bidang penggemukan sapi. Oleh sebab itu, seandainya sapi kurban tak laku seluruhnya, akan dipelihara untuk penggemukan. (MA) 

Dibanjiri Bawang Impor, Petani Bawang Cirebon Merugi

Cirebon - Petani bawang merah Kabupaten Cirebon kembali mengeluhkan jumlah bawang impor yang terlalu banyak beredar di wilayahnya. 

Barang impor tersebut membuat harga jual bawang merah lokal di tingkat petani tetap berada menurun sampai Rp 9.000 per kilogram dan menyebabkan petani merugi karena biaya produksi yang tak tertutupi.

Salah seorang petani bawang merah asal Kecamatan Gebang, Teni (45) mengatakan, maraknya bawang merah impor membuat harga komoditi tersebut di pasar saat ini hanya berkisar Rp 11.000 - 12.000. 

"Kalau di pasar saja segitu, di tingkat petani lebih rendah lagi, bahkan sempat mencapai Rp 8.000 per kilogram," katanya saat ditemui Senin, (29/9/2014). 

Menurut Teni, rendahnya harga tersebut tak beranjak naik sejak awal 2014. Meskipun kebijakan impor sempat ditinjau ulang, kenyataannya bawang merah asal luar negeri masih marak beredar di Kabupaten Cirebon. 

Teni menambahkan, sejak awal 2014 pula biaya produksi para petani bawang merah melonjak tajam. Kelangkaan pupuk dan berbagai kendala alam membuat petani harus mengeluarkan biaya rata-rata Rp 15.000 untuk setiap kilogram bawang merah yang berhasil dipanen. Dengan harga jual saat ini, petani jelas harus terus menanggung kerugian.

Kondisi itu diakui Teni tak membuat para petani bawang merah di daerahnya bisa tersenyum lebar dengan hasil panen kali ini. Meskipun hasilnya melimpah, Teni dan petani lain khawatir pasokan yang berlebih akan membuat harga jual di tingkat petani semakin terpuruk.

Petani bawang merah asal Kecamatan Babakan, Wasidurin (43) juga merasakan hal yang sama. Ia mengaku hampir putus asa dengan harga jual yang tak pernah menutupi biaya produksi sejak awal 2014. "Tahun ini kami tak pernah untung. Bawang impor masih banyak, sehingga kami terus merasakan keterpurukan harga," katanya.

Wasirudin mengaku, harga bawang merah anjlok tajam sejak pemerintah membuka keran impor pada Januari 2014 lalu. Ketika itu, dampaknya langsung dirasakan di mana harga jual bawang merah lokal di tingkat petani berangsur menurun dari semula Rp 12.000 menjadi Rp 8.000, Rp 5.000, bahkan Rp 2.500 per kilogram. Akibatnya petani merugi sampai puluhan juta rupiah ketika itu.

Seperti diketahui, pemerintah pusat memang telah membuka keran impor bawang merah pada semester pertama 2014. Keran tersebut dibuka untuk sektiar 75.762 ton bawang merah yang masuk pada Januari-Maret 2014. 

Keterpurukan membuat petani bawang merah Kabupaten Cirebon sempat berunjuk rasa besar-besaran di depan kantor Bupati Cirebon, Rabu (30/4/2014). 

Tuntutan yang sama kini juga disampaikan para petani agar pemerintah menghentikan impor bawang merah. Jika tidak, ratusan petani bawang merah di Kabupaten Cirebon hingga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah kemungkinan akan gulung tikar.

Wasirudin menegaskan, kebijakan impor merupakan inkonsistensi pemerintah, terutama setelah wakil rakyat mengesahkan Undang-undang Perlingungan Petani. 

"Saya mengerti bahwa harga jual kami memang tak boleh memberatkan konsumen, namun kendala kami di lapangan juga harus menjadi pertimbangan. Semua harus diuntungkan," katanya.

Menurut Wasirudin, Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 118/PDN/KEP/10/2013 tentang Penetapan Harga Referensi Produk tidak relevan dengan kondisi petani saat ini. 

Keputusan yang memuat aturan jika harga bawang mencapai Rp 25.500 per kilogram di tingkat konsumen dan Rp 12.500 per kilogram di tingkat petani itu jelas memberatkan petani dalam kondisi tertentu.

Wasidurin menambahkan, dalam kondisi normal biaya produksi petani memang bisa ditekan sampai Rp 10.000 - 11.000 per kilogram. Namun ketika kekeringan, banjir, kelangkaan pupuk dan faktor teknis lain menjadi kendala, biaya itu bisa meningkat sampai Rp 15.000 per kilogram. 

Oleh karena itu, harus ada kebijakan yang melindungi fpetani saat dihadapkan dengan kendala-kendala seperti itu.(HH)
 

Program City Gas, 195 Rumah di Cirebon Dialiri Gas Alam

Cirebon - Sebanyak 195 rumah di Kecematan Harjamukti kota Cirebon, Jawa Barat akan mulai dialiri gas alam pada 7 Oktober 2014. Louncing pengaliran gas alam itu bagian dari 4000 pelanggan yang berasal dari program city gas bantuan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Dari 4.000 rumah pelanggan tersebut terbagi dalam 11 sektor. Hanya saja PT Perusahan Gas Negara (persero) area Cirebon baru akan mengalirkan secara bertahap  hingga kemudian semua sektor teraliri gas semua. “Tahap awal baru di sektor 4 dulu. Di lokasi sektor lainnya menyusul,” kata Walikota Cirebon Ano Sutrisno usai meninjau langsung uji coba pengaliran gas alam di Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti, Senin (29/9).

Uci coba PT PGN itu baru mengalirkan gas alam untuk empat rumah warga saja. Dan dari hasil peninjauan itu walikota mengaku senang karena dapat berjalan dengan lancar. “Hasil tinjauan tadi, proses mengalirkan gas alam ke rumah warga berjalan dengan baik. Artinya gas alam itu dapat digunakan oleh warga,” kata walikota.

Terkait dengan ujicoba yang kemudian dilanjutkan louncing di sektor 4 lalu di sektor-sektor lainnya, dia berkeyakinan akan mampu meningkatkan perekonomian warga kota Cirebon. Khususnya yang berada di wilayah yang mendapatkan bantuan dari program kementerian ESDM tersebut. “Nanti jelas tidak ada lagi kelangkaan elpiji, dan perekonomian warga pun akan menjadi lebih baik,” tegas Ano. (DAR)

 
Copyright © 2014 Koran Pantura Online | Media Online Pantura. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger